Rabu, 23 Oktober 2013

MENU MAKANAN

Dan hari ini aku akan bercerita tentang makanan.
Entah karena mungkin makin kesini aku semakin menganggur jadi aku lebih sering kuliner (baca: burjo) hahaha....

Jadi ceritanya ini beberapa pengalamanku dengan makanan yang biasa menjadi luar biasa. Kok bisa??? Bisa donk...let's check this out


1. Intel Rebus Berprotein Tinggi
Intel rebus merupakan makanan yang paling sering aku pesan di burjo. Ind*mie rebus dicampur telor nggak lupa pake sawi yang agak banyak dan ditemani segelas besar p*p*c* vanilla blue. Nyam nyam...sarapan jadi cukup menggiurkan.
Ceritanya hari itu aku lagi nyidam banget intel rebus. Akhirnya setelah mencari burjo terdekat, jatuhlah pilihan pada burjo depan kost-an, selain dekat juga karena aku malas untuk mencari tempat lain (saking laparnya). Setelah kupesan menu di atas, datanglah bersama kebul kebul tanda panasnya makanan dan langsung kusantap. Secara tradisi nenek moyang, aku nggak lupa berdoa donk (wussshhhhhh...angin semilir, wajah kinclong makinclong). Tak ada tanda - tanda mencurigakan dengan menu yang kumakan. Kusantap saja hingga hampir habis dan rehat sejenak untuk mengintip hape (sebenarnya aku makan sambil baca komik conan, secara dikost sinyal lelet dan ternyata burjo ini lumayan recommended untuk sinyal hahahahaha *ketawa setan)
Setelah beberapa saat baca, kulanjutkan menyuap beberapa mie dan kusisakan sayuran berupa sawi untuk kusantap di akhir (kebiasaan). Kubaca lagi....kusantap lagi....kubaca lagi....kusan...

Eh-eh apa itu???
Bentuknya kecil dan agak lonjong, berwarna kuning-putih pucat (mungkin karena udah kecampur kuah kali ya), dan ADA MATANYA!!!

DAMNNN!!!
Itu ULAT coyy.....*ngelus dada

Aku krik-krik dengan ulat yang entah kenapa nangkring di salahsatu sisi mangkuk. Udah mati emang, tapi SIAL BANGET kan ternyata selama aku makan ada mayat itu ULET disitu. Masya Allah...maafin dosa saya Tuhan...hiks :'(

Setelah kejadian mengejutkan itu, aku baru sadar kemungkinan darimana asal si ulat. SAYURAN A.K.A SAWI. Weallah...mungkin saja mas burjonya nggak nyuci dengan bener tuh sawi jadinya masih nyisain ulet deh -_-".

Tapi untungnya guys, makananku sudah hampir habis. Jadi ketika kejadian melihat ulet itu menjadikanku malas melanjutkan makan, setidaknya perut sudah kenyang dan nggak sia - sia bayar.

Berpikir "Jangan - jangan tadi nggak cuma nemu satu ulet, tapi udah terlanjur kemakan"
*Ah whatever lah hahahahahaha


2. Lotis Merah
Lotis siapa sih yang nggak kenal sama segarnya dan pedes plus asem - asemnya itu. Dimana - mana orang jualan dan pasti laris manis karena Yogja emang lagi panasnya naudzubillah.
Oke, well hari ini aku harus mengikuti kerempongan salahsatu teman yang sedang mengejar yudisium. Karena aku baik hati (sebenarnya karena sogokan traktiran sih, kan lumayan hahahaha), berangkatlah aku dan si teman mengurus itu semua. Sebelumnya kupikir akan segera kelar (karena aku pernah juga mengurusnya), ehh tapi ternyata berkali - kali salah dan di dalam kampus nggak ada fasilitas fotocopyan ataupun rental (kasian...). Walhasillah kita bolak balik keluar kampus cuma buat benerin spasi nama, kop, dsb a.k.a rempong.
Menjelang akhir kerempongan itu, di saat kami sedang menuju salahsatu rentalan yang sebelumnya kami juga ke sana, terlihatlah bapak - bapak penjual lotis. Matahari semakin terang, badan semakin lemah, tenggorokan semakin kering, perut sedikit keroyokan, akhirnya berhasillah mereka membuatku untuk mendatangi bapak sang penjual untuk menanyakan harga (kirain mau beliii, hahahaha). Yee...aku tetep beli yeee :P

"Bungkus ya pak, satu", kataku.
"Oke neng...", asekkk bapaknya (-_-")
Aku menepi karena takut kena matahari dan sambil melihat sang bapak penjual menyiapkan pesananku, kukeluarkan si hape. Sinyal lumayan.
Tapi kemudian....elek!
Heh...aku menyerah.
Dan demi menghilangkan kebosanan, akhirnya kulihat saja sang bapak penjual meracik lotis.
Bengkoang, set set set....diiris.
Mangga muda, set set set....diiris.
Timun, set set set....diiris.
"Wuih tajem bener deh pisaunya..., gimana kalau kena tangan tuh"

Beberapa detik kemudian
Set set set....diiris....
Aku : (memperhatikan jari telunjuk)
Masya Allah darah coy....

Aku : (nelen ludah)
Si bapak penjual = (melanjutkan bekerja)
Aku : (hendak membatalkan pesanan tapi nggak enak karena udah nungguin dan dibuatin)
Si bapak penjual = (mungkin merasa diperhatikan atau perih, belum selesai pekerjaannya dia ke arah samping gerobak dan mencuci tangannya)
Aku : (masih nelen ludah dan memperhatikan)

Beberapa menit kemudian
"Neng, ini pesenannya"
Aku (gelagepan), "Eh iya pak...", kuserahin uang pas dan buru - buru pergi tanpa mendengar ucapan terimakasih sang bapak.


Sampai di kost....
Lotis masih terbungkus rapi.
Perut : LAPERRR COYYY....
Aku  : Buang aja kali ya...
Perut : Jangan coyy, makan aja...
Aku   : *nyerah

Kubuka lotis dan ketika hendak kumakan (SUMPAH MASIH KEDERRR INGET DARAHNYA SI BAPAK T_T)

:D
Tapi jangan khawatir, ada banyak jalan menuju Roma...hahahahaha

Akhirnya tanpa pikir panjang, kuambil air minum dan kucuci itu lotis sebelum kumakan.
Hasilnya.....rasanya sedikit berkurang, tapi daripada harus berasa darah (Wewww!)

Selasa, 22 Oktober 2013

Si Kecoa Nyengir

Dan hari ini aku pengen cerita tentang KECOA. Iya makhluk cokelat mengkilat dan memiliki radar paling panjang seantero Jawa itu entah kenapa berhasil menikmati indahnya kamarku selama beberapa hari.

Ceritanya tiba - tiba saja ketika aku sedang duduk - duduk dengan santainya di atas sebuah kasur yang dengan cerdas kulipat agar terlihat lebih empuk, tiba - tiba Si Kecoa ini nongol. Dia menatapku dengan pandangan yang kira - kira begini, " Ini manusia kok cantiknya naudzubillah, imut lagi. Duh-aku jadi jatuh cinta". Ok fine itu khayalan.

Pas aku hendak mengusirnya dengan sabet lidi kekuatan 1000 kuda, eh ternyata Si Kecoa udah ngacir entah kemana. Akhirnya kubiarkan saja, pikirku mungkin saja dalam semalam dia nggak betah hidup di kolong kasur dan akhirnya memilih untuk melarikan diri.

Ehhhhh-ternyata enggak. Entah sudah berapa hari Si Kecoa berkelana di dalam kamarku tanpa sepengetahuanku. Dan tibalah hari ini ketika aku sedang sibuk di depan lepi-yang-kusayangi-meskipun-nyebeli, Si Kecoa muncul dan berlari ke arah helmku berada. Mungkin Si Kecoa penasaran ada museum atau malah concert hall warnanya putih semua.

Serasa mendapat ide cemerlang, buru - buru kuangkat itu helm dan menemukan Si Kecoa nangkring di bagian dalam atas kepala, mungkin dia habis lihat Spongebob versi tidurnya Patrick jadi dia ikut - ikutan. Kubawa helm berisi kecoa yang lagi nangkring di atas dan sesampainya diluar kupukul - pukul bagian atas helm (niatnya biar Si Kecoa jatuh).

Beberapa saat kemudian.
Kecoanya jatuh belum ya?
Kuintip bagian atas helm
Udah nggak ada tuh...
Kubuka - buka sela helm yang mungkin bisa dijadikan tempat persembunyian, nihil.
Aku lega.

Baru aja mau kubawa masuk lagi helm, tiba - tiba entah darimana
Tuk!

Si Kecoa  =  (nyengir)
Aku          =  (melongo)
Si Kecoa  =  (lari secepat kilat menuju pintu kamar)
Aku          =  (baru sadar dan mencoba mengejar Si Kecoa)
Si Kecoa  =  (menemukan sela - sela diantara kardus buku yang super sempit, masuk)
Aku          =  (ngos - ngosan, melongo lagi)


Hah, emang nasib kali ye kamarku dihuni Si Kecoa yang super nyebelin itu. Mana pake nyengir lagi -_-'
Hari ini entah bagaimana aku harus segera menemukan Si Kecoa dan ngusir
*enak ajee emang yang bayar kost-an elooo

Si Kecoa  = (entah dimana) " Hahaha, sukurin loee"

Rabu, 25 September 2013

Ting Ting Tuing

Bulan - bulan tanpa cerita....

Biarlah kuawali semua ini dengan satu kata "pengharapan". Aku memandang sejenak. Banyak hal di luar sana yang tak sesuai dengan apa yang kupikirkan atau setidaknya sedikit mendekati yang menurutku benar. Am I wrong???

Kegigihan seorang anak yang dibalas hanya dengan kata sepele rasa - rasanya menyakitkan perasaan. Duhai Yang Memberiku Anugerah Hidup, seperti inikah yang tertulis dalam setiap lembarnya, kehidupan menyakitkan dan penuh "pengharapan" palsu.

Aku memandang lagi ke depan, biasanya....biasanya akan selalu ada dia yang tersenyum dan membenamkan muka tangisku dalam dekapannya. Itu kemarin, itu berbulan - bulan yang lalu, ketika kami sedang tak terpisah, ketika kami masih suka berfoya - foya. Inikah yang dinamakan "pengharapan" dalam versi lain hatiku???

Bergalon - galon air tertumpah akibat gravitasi mendekati bumi. Aku tercengang. Lalu harus bagaimana sekarang? Aku hanya ingin bercerita

Bukan - bukan melalui kabel yang menghubungkan jarak, I just want to see you, it's enough(!)
I need you...

Senin, 18 Maret 2013

2 KATA KERJA

Hallo....lama tak merangkai kata di sini hee :)

Sehari sebelum hari itu dan banyak cerita. 2 kata kerja, tapi hikmahnya luar biasa.

" Fokus dan Membantu "






                 DAN





Ada yang spesial dari 2 kata itu. Bagaimana tidak? Hari yang harusnya bisa kumanage sedemikian rupa ternyata mengimbuhkan beberapa bumbu - bumbu yang ternyata semakin menyedapkan pandanganku (*ups) haaaa-bukanlah maksudnya kehidupanku (wuuuu :P)

Dan hari ini belajar dari kata fokus, yups....simple banget sih sebenernya. Acara penelitianku yang Alhamdulillah hampir mencapai tahap akhir ini (ceilllah) berada dalam taraf sejahtera karena aku sudah pulang (ke rumah) alhasil memang sekarang aku yang mengurusnya. Tapi ingat...sejak ia kutinggalkan PU SILIN selama 2 minggu siapa yang mengurusss???? Well, ada 2 orang (sebenarnya 3 sihh), DPS dan partner penelitianku, untungnya mereka mau membantuku hingga pengambilan ke IV. Oke ingat baik - baik ya angka romawi yang kutuliskan itu (PENTING).

Dan aku seperti biasa telah membuat jadwal serinci mungkin dengan target - target yang harus ditembus (klo tembus dapet bonus lho :D -->> yakaliii (--"))
Dibawah ini jadwal penelitiannya =

"JADWAL PENELITIAN"
Senin, 18 Maret'13 = penimbangan seresah IV, masukin amplop seresah V, sterilisasi
Selasa, 19 Maret'13 = pembuatan CSA (PDA baru bisa dibuat setelah dextrose ada)
Rabu, 20 Maret'13 = sterilisasi
#penimbangan seresah V menyesuaikan adanya oven dan waktu :D 
*jadwal bisa berubah sewaktu2 sesuai sikon ^_^

Jadwal di atas harus men-sinkronkan jadwal harian, seperti ini =
JADWAL
Senin, 18 Maret 2013 = jam 07.30 upacara pelepasan KKN
Selasa, 19 Maret 2013 = jam 11 mengerjakan uji benih (PU SILIN), konsul proposal cuii
Kamis, 21 Maret 2013 = kumpul KKN
*Klo gak Kamis sore, Jumat pagi penerjunan

Yups, mari fokus saja di hari ini, yepsss...adakah kalian para pembaca yang budiman menemukan keanehan??
yupss....selamat buat Anda - Anda yang pintar menemukannya, yang bingung silahkan hubungi dokter mata haaa.... :D
Dengan bangganya aku telah mengoven sampel yang sudah diamati dua minggu lalu oleh si partner dan aku melalukan penimbangannya lagi hari ini (behhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!!NGAPAIN COBAAAAA --->>> TERIAK KE OVEN)
hahahahahahaha......sumpah fokus emang bener - bener penting di saat segalau ini T_T. Endingnya aku baru sadar setelah seperempat sampel kutimbang dan akhirnya menutup buku orange plus manyunn)

Dalam hati, " ngapain coba ngelab sampe sore buat nimbang sampel yang nyata - nyata datanya udah diambil kemarin Ngerjain yang lain kek...malah numpuk deh akhirnya ", behhh

Hahahahahaha



Oke sekian cerita saya (hah???apa???ohh ehh heee lupa.... :P satu lagi ya tentang MEMBANTU) yep! Entahlah kenapa hari ini auraku seolah sedang mengundang banyak masalah di hari yang berurutan.
Jadi ceritanya...

Minggu pagi saatnya sunday morning. Hola - holo bersama kawan demi mencari setitik nasi (opo meneh?!) dan tepat di tengah kerumunan hp berbunyi
' tik tok tik tok tingkling tingkling...teng tong....teretetettttttt....(bla-bla-bla) '
' hallo...'
' dek-lagi dimana?'
' ini siapa ya?'
'...-ri m-u mi..long ambilin alat di lab, sekarang lagi dimana'
' ha?apa?nggak jelas?'
' suaranya nggak jelas e'
(30 menit kemudian)

Tarik tangan kawan keluar kerumunan. "Eh-mau kemana?". "Ke lab", kataku. " Ngapain??", tanyanya. " Ambilin alat"
Meluncurlah kita ke lab dan mendapatkan 4 alat yang biasa kupakai untuk pengambilan data lingkungan. 
Sambil menunggu si embaknya yang pinjem alat datang, 1 jam kita nungguin sambil arisan.
1 jam kemudian...
semua alat sudah berpindah tangan
' makasih ya dek...'
' ya mbak sama - sama'
Pulang dengan bangga membawa senyuman (alay!)

Hari selanjutnya Senin, pukul 08:46
Sms masuk ditengah - tengah upacara, dari sang laboran
' Ta, alatnya kamu kasih semua? Ktmnya kamu taruh mana?'
Kubalas..
' Ya pak,wah gak tau kemarin nggak ngasih '
15 menit...
' Alatnya jangan dikasih semua, itu buat yang lain....(kena marah)'
Aku cemberut (plissss God, apa salah guwehhh)


Dalam hati, "mana aku tahu mbaknya pinjem alat apa, dia nggak bilang juga toh dimasukin semua tuh alat ke tasnya. Aku kan cuma disuruh ngambilin aja " hedehhh (--")

'membantu kadang justru membuat kita celaka' -_-"


Minggu, 03 Februari 2013

It's The First Time

Dan rindu saat - saat ini bersamamu...
Kita sama - sama terlahir di dunia ini. Kita dipertemukan di sini. 
Aku dan kamu, aku rindu.....

^_^


The first time we take a photo

Amplaz 1st

Perahu Kertas jadi saksi bisu pertamakalinya kita (tepatnya aku) 
ke bioskop

Wanagama 1st


Alay 1st

It's my first time come to your hometown

Poo, my first doll

Our first beach

Taman Lampion 1st

Your graduation

Me and You, now


Sabtu, 12 Januari 2013

Me and Poo

Hay...lama nggak nulis jadi pengen posting sesuatu yang baru. So....bakal gue kenalin temen baru gue di kamar ^_^
Jeng - jeng......namanya Poo <3

Boneka panda lucu gedhe imutttt nggemesin >,<
Thanks to Aa <3



Inilah kegilaan gue dan Poo :
Poo saat pertama kali melihat dunia (Aa and ai)
13 November 2012 (night)

Poo in my room ^_^

Ceritanya lagi naik banana boat


 Ini mau nge-kiss ceritanya tapi wajah-ku penyok


Ini versi lain naik banana boat 


Lihat tangan gue ne (Berani!!!)


Awwww-helppp...


Hufh-capek deh....*hahahaha

Sekian ceritaku dengan si Poo ^_<
Sampai jumpa lagi.....

Jumat, 30 November 2012

Sebuah Cerita


Entah kapan ini kutulis, yang jelas aku sudah menyelesaikannya hingga bab.4. Kalau ada yang mampir, tolong bantu aku untuk memberinya judul ya..(sebenarnya aku juga tak tahu mau memberi judul apa-yang jelas di aslinya aku memberinya judul noveljadipunbelumjudljugagakada), mohon komentarnya karena aku hanya sekedar memposting tulisan yang kutemukan di folder lamaku. Semoga bermanfaat...enjoy read it :)

 ONE

Aku hanyalah manusia biasa,yang tak mempunyai daya apa-apa untuk mengubah apa yang telah tersurat di kehidupan nyata. Aku hanya dapat bertanya mengapa dan menjalani bagaimana. Aku menghela napas panjang. Sudah hampir setahun tapi aku tak menemukan kepastian dari semua yang telah kulakukan dan aku hampir letih karenanya.
Mungkin semua ini tak akan menjadi seperti ini jika aku tak pernah menyetujui kepindahan kami ke Yogja. Aku harus beradaptasi ulang dengan lingkungan yang benar-benar berbeda dan terutama aku harus menghadapi ujian pertama masuk sekolah baru. Aku menghela napas panjang dan melangkahkan kaki memasuki pintu gerbang sekolah. Seragam putih abu-abu seolah membanjiri gedung tua itu dengan celotehan mereka yang beberapa tak kutahu maksudnya. Sudah hampir setahun lalu,sejak aku memasuki gerbang itu dengan canggung. Semua orang menatapku ingin tahu seolah aku makhluk dari planet lain dan aku harus dengan sabar menjawab pertanyaan sama yang selalu diucapkan mereka saat bertemu denganku selama seminggu pertama aku sekolah,”Kamu anak baru ya…?”,”Darimana?”,”Rumahmu dimana?” dan aku tersenyum saat ini jika mengingatnya.
Tapi itu semua setahu lalu. Dan kini ketika aku sudah menjadi bagian dari mereka aku mulai merasakan kehadiranku tak spesial lagi. Bukan karena aku menginginkan sebuah ketenaran sama seperti yang sering digembor-gemborkan Sinta di kelas bersama semua anggota gengnya. Hanya saja aku merasa kesepian yang dulunya datang saat awal-awal aku di Yogja kembali terulang. Teman-temanku memang banyak dan sangat baik padaku, tapi entah kenapa aku masih saja sering merasa ada sesuatu yang kurang dan seolah ada lubang dalam hatiku ini yang terus-menerus terbuka. Aku kembali menghela napas, mengingat hal itu aku merasa sangat merana dan aku tak mau itu terjadi hari ini.
“ Hay…guys,kau sudah siap?! ”,Andira Sang Pemimpin Redaksi menyapaku di loker.
Aku hanya tersenyum padanya. Test hari ini adalah test persiapan Ujian Nasional yang terakhir dan aku harus mempertahankan predikat ‘lulus’ test persiapan yang lalu. Aku membuka loker dan mengeluarkan beberapa catatan, sementara Andira sudah menutup lokernya.
“ Kau tahu,liputan simulasi ujian kali ini aku yang buat, jadi kemungkinan ada banyak hal yang akan menyudutkan Faris”,jelas Andira.
“ Yeah…”,aku mengangguk,” Kau selalu  sajakan begitu….membuat berita yang kontroversial…”,tambahku,yang disambut tawa Andira.
“Jadi kau yakin lulus kali ini?”
Aku hanya mengangguk, meski tidak seratus persen tapi setidaknya ada sedikit optimis dalam diriku. Sementara bagi Andira,tak perlu kutanyakan pertanyaan yang sama, karena baginya Ujian Nasional hanyalah ujian biasa sama seperti ulangan harian.
Di depan ruangan yang akan kami tempati berjejer teman-temanku yang lain dengan buku catatan masing-masing. Beberapa anak menyapaku ketika aku melewati mereka untuk mencari tempat duduk, sementara kebanyakan dari mereka yang lain seolah tak mampu lepas lagi dari hafalan buku di tangan mereka. Aku melewati Dita dan Siska yang justru asyik mengobrol dan sengaja memilih tempat duduk yang  jauh dari keramaian, sementara Andira yang sejak tadi menguntit di belakangku  duduk di sampingku memasukkan buku catatannya ke dalam tas, mengambil kamera dan mulai asyik memfoto suasana disekitarnya.
Aku membuka buku catatanku dan mulai membaca beberapa bab yang ku anggap nanti akan keluar. Hafalanku sudah sangat banyak tadi malam dan tak mungkin aku harus menghafalkan materi lagi. Jadi akau hanya membuka buku dan membacanya sekilas kemudian menatap teman-temanku yang sedang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing,terutama Andira yang terlalu mencolok dengan kameranya. Sedang asyik-asyiknya memperhatikan tiba-tiba ada yang mencuri perhatianku lebih.
Ia di sana, di depan ruangan lain. Baru saja berangkat dan sedang mengobrol dengan temannya. Aku mengamati dari jauh. Nampaknya ia sedang senang dan entah kenapa aku jadi tersenyum sendiri. Andira yang memang bermata tajam sepertinya tahu apa yang sedang kulakukan. Dengan sangat tidak sopannya  ia mengagetkanku dengan jepretan kameranya sambil tertawa,” Say chiiiisss…!!!”
Aku geragapan,” Ikh apaan sih An??!!”,wajahku dongkol.
Andira masih saja tertawa dan mencoba memperrmainkanku,sementara aku mulai sebal dengan sikapnya yang merusak kesenanganku. Belum juga ia selesai tertawa, tiba-tiba bel telah berbunyi dan ia sudah lenyap dari tempatnya berdiri tadi. Aku mendengus kesal dan segera masuk dengan hati dongkol. Mulai hari itu aku tahu ada yang berbeda dariku.
Soal telah dibagikan dan semua telah siap dengan jurus masing-masing,tinggal menunggu bel dan semua akan mengetahui hasilnya seminggu lagi. Aku menghela napas panjang dan mengulang doaku tiga kali, meski beberapa menit tadi sempat dongkol, untuk urusan yang satu ini aku harus fokus. Aku melirik jam dinding di depan 2 menit lagi. Aku mulai tak sabar, kulirik teman-teman seperjuanganku yang sepertinya juga merasakan ketidak sabaran sama sepertiku. Andira duduk di bangku deretan depan sementara aku jauh agak ketengah. Bangku di belakangku diisi Lucky-cowok berkacamata yang dikenal ahli basket, sementara di depanku Kurnia-sang penyanyi dangdut. Melihat teman-temanku aku jadi merasa iri, mereka punya kelebihan yang aku tak punya dan bagi mereka ujian ini seolah tak ada artinya sama seperti Andira, sementara aku-bukan-siapa-siapa-hanya seorang gadis yang hobi menulis. Aku menunduk segera membuka soal ketika akhirnya bel berbunyi.
Ujian simulasi ini telah disesuaikan jadwalnya dengan ujian nasional, begitu pula aturan-aturannya, hari pertama ini adalah ujian Bahasa Indonesia dan Matematika. Aku membaca dengan cepat soal-soal yang tertulis di sana, mengerjakan apa yang aku anggap bisa terlebih dahulu dan berusaha berpikir dengan cepat. Tak ada yang aku pikirkan saat ini kecuali ujian nasional, soal-soal yang harus ku selesaikan dan kelulusan,
1 jam berlalu. Aku berhenti sejenak di no.56,membaca ulang soal dan memutar otak lebih keras lagi. Ada yang membuatku bingung dari soal majas tersebut, tapi akhirnya metafora masuk dalam daftar jawabanku. Aku beralih ke nomor lain dan kembali memutar otak lebih keras.
Akhirnya ketika waktu tinggal 10 menit, hampir semua soal telah aku jawab. Aku meregangkan otot-otot badanku sebentar,kemudian kembali menyelesaikan kewajibanku. Dan bel berbunyi tanda waktu tinggal 5 menit lagi. Aku segera menyelesaikan 1 nomor yang masih kosong, kemudian 3 menit terakhir kugunakan untuk meneliti jawaban.
“ Baiklah,waktu habis. Silahkan letakkan jawaban dalam keadaan terbalik dan soal boleh dibawa pulang “,sang guru penjaga memberitahu kami dan saat bel terakhir berbunyi 2 kali,dengung puluhan siswa membludak.
Aku segera keluar dari ruangan itu,mengambil tas kemudian menuju loker. Andira yang sudah keluar lebih dulu,sengaja menungguku untuk pulang bareng, tentu saja dengan berbagai pertanyaan yang sudah kutebak sebelumnya. Seperti kebiasaannya setiap selesai ujian ataupun ulangan, Andira dengan bangganya akan menanyaiku berbagai macam pertanyaan yang berkaitan dengan ujian tadi. Seperti kali ini, ketika akhirnya aku menutup loker ia mulai membombardirku dengan berbagai pertanyaan, “ Gimana tadi??”
“ Apanya??”, aku pura-pura bingung.
“ Yah, kau ini Sya…jelas aja ujiannya lah,emang apalagi?!”
“ Oh,ya…gitu deh”,jawabku asal. Aku terbiasa dengan pertanyaan Andira itu dan tak ada salahnya sekali-kali membuatnya kesal. Mendengar jawabanku itu ia mengerucutkan bibirnya dan melipat kedua tangannya ke depan. Aku tertawa dan akhirnya mengalah. Mengerjai teman apa salahnya??!
Ting –tong
Aku bergegas, mengambil tas dan melenggang pergi. Andira berdiri di depan rumahku memakai jaket biru dan jeansnya. Membawa tas sepertiku, tapi isinya pasti bukan hanya buku melainkan ada kamera dan buku catatan kecil yang selalu dibawanya saat melakukan wawancara.
Sebenarnya aku ingin menolak ajakannya untuk melakukan wawancara masyarakat sekitar tentang Ujian Nasional, mengingat besok masih ada simulasi ujian. Tapi ketika ada tawaran mengasyikkan yang sengaja diberikan Andira agar aku mau menemaninya, akhirnya aku luluh juga.
“ Kau mau mulai darimana?”, tanyaku.
Heran melihatku yang bersemangat, Andira menatapku sekilas, mungkin memastikan apakah benar aku atau bukan, kemudian mengeluarkan semacam buku catatan kecil yang aku tahu itu buku wawancaranya, membacanya sebentar lalu mengangguk.
“ Dari kompleks dekat sekolah kurasa,ayo..”
Dan di sinilah kami 20 menit kemudian, kompleks sekolahku yang tak pernah sepi.  Lapangan dipenuhi oleh tonti dan marching band, sementara aula diisi oleh klub olahraga. Dulu waktu kelas 2 aku sering sekali berpanas-panasan di lapangan masuk dalam section pitch dan melakukan display. Rasanya menyenangkan sekali waktu itu. Aku memandang ke arah lapangan, adk-adik kelasku sedang melakukan display yang dulu pernah kulakukan saat lomba nasional. Aku tersenyum sendiri. Meski hanya setahun merasakan hal itu, tapi mengingat masalalu kadang membuat berpikir ‘kenapa sudah kelas 3’. Namun mengingat masalalu tak jarang pula membuatku ingin cepat-cepat lulus dari sekolah ini. Aku menghela napas dan mengalihkan pandangan pada Andira yang sejak tadi asyik mewawancarai seorang penjual pulsa di depan sekolahku.
Kadang aku ingin tertawa sendiri melihat tekhnik  wawancara Andira. Meski tak sering tapi 3 kali dengan hari ini cukup membuatku tahu gaya wawancara Andira yang menurutku terkesan lucu. Dari awal tadi wawancara dimulai hingga 20 menit berlalu pertanyaan yang berkaitan dengan topik baru sekali ia singgung, lainnya ia justru bertanaya tentang personal ID sang narasumber.
“Ini mau wawancara atau kenalan sih..??!!”, batinku.
Setelah 30 menit berlalu akhirnya ia menyelesaikan wawancaranya, itupun karena aku memberinya isyarat injakan kaki. Sang mas narasumber-yang aku lupa siapa namanya-melambai pada kami saat akhinya kami keluar dari counternya yang sempit. Aku tak ingin berkomentar apa-apa sementara Andira sibuk mengecek list wawancaranya.
“Mas penjual pulsa, Pak Rudiyam,Bu kantin atas,Bu kantin bawah…”,ia terus saja mengoceh sampai kami melewati gerbang sekolah dan aku bisa melihat dengan sangat jelas ia di sana.
Mungkin kalau aku tak ingat sedang bersama si-pencari-berita mungkin aku sudah ke sana,pura-pura mencari sesuatu yang tertinggal dan akhirnya aku akan duduk di sana, mengobrol dengannya.
‘BODOH!!!’,jerit batinku. Aku menepuk pipiku tanpa diketahui Andira. Seketika aku sadar apa yang baru saja kulalukan,membayangkan dia?! Kupikir ada yang benar-benar salah dariku. Kami membelok di tangga dan sesaat sebelumnya bisa kulihat ia mengangkat wajahnya dari buku yang dibawanya.
Akibat kejadian tadi aku tak lagi mampu mengikuti seluruh rangkaian acara wawancara Andira bahkan aku lupa menangih janji menggiurkannya akan membelikan buku terbaru yang sedang menjadi incaranku sebulan ini. Sampai di rumah aku langsung masuk kamar, menguncinya rapat-rapat dan buru-buru mengambil diary-ku. Kutumpahkan semuanya di sana hingga aku lelah menulis.
“Ada yang berubah dariku? Ada yang berbeda dariku? Hanya saja aku tak mampu menjawabnya karena ku tak tahu apa jawabnya…”
Paginya untunglah aku tak terlambat bangun. Andira sudah membantuku bangun sejak kelas 3 ini. Ia selalu meneleponku saat adzan Subuh baru saja terdengar sehungga aku bisa belajar pagi,jadi sekarang aku mulai terbiasa dengan pola itu. Sambil membenarkan dasi abu-abuku aku melirik jadwal yang kubuat dengan bentuk kupu-kupu,’masih sehari lagi kalau aku berhasil melewati hari ini’,pikirku. Aku bernapas lega dan mempersiapkan mentalku selama semenit. Ini cara jitu yang kudapatkan dari Andira, yang awalnya kupikir sangat aneh dan buang-buang waktu, tapi ternyata setelah di coba lumayan juga hasilnya. Aku berdiri di depan kaca, melirik dasiku sekilas kemudian mengamati wajahku yang tersenyum balik padaku. Seperti yang kulakukan kemarin,ku kepalkan tangan, kuambil napas dalam-dalam, dan tiba-tiba aku berteriak sangat keras,”AKU PASTI BISA HARI INI,AKU BISA HARI INI,AKU BISA HARI INI!!!” dan ‘cessSS’  seperti ada es batu yang rubuh menimpaku, aku merasa sangat nyaman dan optimis. Aku tersenyum sekilas sebelum akhirnya akau keluar dari kamar.
Aku mulai terbiasa dengan suasana yang kulihat pagi ini. Semua anak duduk di depan ruangan ujian masing-masing, membawa buku mereka dan sibuk berkomat-kamit ria. Aku menemukan Andira di tempat kemarin kami duduk, masih membawa kameranya dan masih pula sibuk memfoto ria. Hanya saja kali ku tahu ia sedang menuliskan list kira-kira siapa saja teman-temannya yang akan masuk dalam daftar mnu wawancaranya. Aku tak menanggapi ya dan memilih untuk belajar sampai akhirnya bel tanda masuk berbunyi.
Tak ada yang berbeda dengan kemarin kecuali guru jaganya. Aku masih duduk di belakang Kurnia dan di belakangku ada Lucky yang kutahu selalu ribut mendekati menit-menit terakhir ujian berakhir. Aku masih saja bingung antara a atau b atau c atau d saat menemukan soal yang sulit dan Andira masih saja menanyakan pertanyaan-peranyaan yang sama saat kami telah keluar dari ruang ujian,meski kali ini dan hari-hari berikutnya aku tak menanggapinya lagi. Aku masih saja menyukai tertawa dan bahagia juga aku masih saja menanyakan apa yang terjadi padaku pada diriku sendiri. Ya..sebenarnya apa yang terjadi padaku minggu-minggu ini??
Aku baru saja keluar dari kantin ketika Dino-ketua marching band tahun angkatanku berjalan kearahku sambil membawa sebuah proposal.
“Sya…aku butuh bantuanmu”,jelasnya.
“Bantuan apa?”,tanyaku heran. Selama aku jadi anggota marching, setahuku baru 2 kali Dino meminta bantuanku, itupun sangat tidak membanggakan, aku hanya disuruh mencopy partitur lagu untuk 5 orang anggota yang tak berangkat. Hanya itu dan pikirku kali ini aku akan dimintai tolong untuk mencopy proposal yang dibawanya.
“Ada proposal dari adik kelas untuk acara perpisahan besok, kau mau ikut?”, tanyanya.
Aku memandangnya heran dan tersenyum, “Mungkin…,kau ikut?”
“Ha-ha-ha-ha…”,Dino tertawa,” Tentu saja aku ikut, kau ini aneh sekali…”,ia melanjutkan tawanya sambil melambai padaku.
Aku tersenyum pada kebodohanku sendiri.
“Dorr!!!”, Andira menepuk bahuku sambil tertawa. Ia sudah kembali dari perpustakaan dengan 2 buku di tangannya.
“Apa itu??”, tanyaku.
“Buku..”,Andira menjawab seenaknya.
Aku membuang muka dan Andira segera mencegahku sambil tertawa,”Hanya satu di dunia ini yang membuatku tertarik ke perpus….novel”
Aku tertawa samar. Andira selama ini yang kukenal ternyata belum sepenuhnya ku kenal. Kami kembali ke kelas dan itu membuat Andira langsung berkutat dengan 2 novelnya,sementara aku hanya duduk tanpa melakukan apa-apa.
Saat itulah aku melihatnya. Dia baru saja masuk ke kelasku saat aku menyadari itu benar-benar dia. Hampir saja aku berteriak memanggilnya agar aku dapat bicara dengannya,sebelum aku sadar aku ada di ruang kelas. Kulirik Andira yang masih asyik membaca novelnya dan aku kembai memandangnya. Ia berjalan ke arahku. Aku mulai gugup. Ia tersenyum dan dengan sangat canggung ku balas senyumnya,entah ia mengetahuinya atau tidak,aku tak peduli. Ia sudah hampir dekat dengan mejaku sekarang.
‘Sekarang waktunya…’,pikirku,’…sapa dia dulu dengan wajar…’. Aku memejamkan mata untuk menghilangkan kegugupanku dan ketika kubuka mata……ia hilang. Geragapan kau mencarinya dan akhirnya menemukan ia tengah bicara dengan Sinta di meja di sebelahku. Aku dongkol tapi kahirnya menghela napas pasrah yang sepertinya disadari Andira.
“Kenapa???”,tanyanya mengagetkanku.
“Ah-eh…apanya??Em-tidak…gak ada apa-apa kok…”,jawabku gugup.
“Oh-kukira,,,,oh sudahlah..”
“Ya..”,aku menanggapi sekenanya dan berharap bel segera berbunyi.
Dari sudut mataku bisa kulihat ia akrab sekali dengan Sinta-gadis populer yang termasuk dalam kandidat calon bintang sebuah production house. Aku menghela napas panjang dan meletakkan kepalaku di antara kedua tanganku. Sekali lagi aku harus bertanya,’Apa yang terjadi padaku??’. Ada desir-desir aneh tadi yang menelusup dalam diriku saat melihatnya, tapi sekarang desir-desir aneh yang membuatku nyaman tiba-tiba saja telah berganti dengan sebongkah bola api yang entah darimana asalnya. Aku membenamkan wajahku, mencoba mengusir hawa tak mengenakkan ini. Dan sedetik kemudian aku merasakan tangan Andira mengguncang badanku.
“Kenapa sih??!”,tanyaku.
Dengan wajah seolah tak melakukan apa-apa Andira menatapku”,Kau tak tidur rupanya..”
“Tentu saja memangnya aku ini tukang tidur apa??!!”,jawabku ketus.
“Maaf..kukira tadi kamu tidur, jadi waktu Angga kesini tadi ia hanya titip pesan”,jelas Andira yang membuatku tersentak.
‘Apa Angga tadi kesini??!!’,batinku menjerit,’Dan Andira pikir aku sedang tidur???!!!!!!!!’
“Baiklah…”,aku mencoba menutupi kekagetannku yang bercampur dengan penyesalan.
“Apanya??”,Andira bingung dengan tanggapanku.
“Tidak..”,nadaku mulai pasrah dan aku baru saja akan kembali memposisikan diriku seperti tadi ketika Andira menyadari ada yang berbeda dariku.
“Kau kenapa sih?!”,tanya Andira mencegahku kembali keposisi tadi.
“Kenapa?? Aku nggak kenapa-kenapa kok…jadi apa pesannya?”,tanyaku sambil mengubah air mukaku. Dalam hal ini aku yakin aku ahli menutupinya.
“Kau disuruh menemuinya nanti pulang sekolah”,jelas Andira yang tampaknya masih ragu dengan jawabanku atas pertanyaannya.
“Oh….baiklah,kau mau menemaniku?”,ajakku.
Kali ini raut wajah penasaran Andira tiba-tiba berubah,”Sebenarnya aku mau Sya…tapi karena aku harus kumpul di redaksional dulu,bagaimana kalau kita pulang barenga aja?”
“Oke…bukankah kita biasanya juga pulang bareng ya…”
Andira tertawa sambil meletakkan novelnya ketika bel berbunyi dan Bu Yenny masuk khas dengan sapaannya. Setelah jam ini berakhir aku mulai gugup.
Bel tanda berakhirnya pelajaran berbunyi. Andira mengingatkanku untuk menemuinya di redaksional dan aku mengangguk saja,kemudian ia keluar dengan terburu-buru. Aku sengaja memperlambat langkahku ketika akhirnya tak ada alasan lain bagiku untuk tetap di kelas. Beberapa teman sekelasku melewatiku begitu saja setelah sebelumnya menyapaku. Aku mengangguk pada mereka dan bertahan untuk berdiri sejenak beberapa meter sebelum berbelok. Ya…,setelah belokan itu kelasnya dan entah kenapa aku merasa sangat gugup.
“Hey…kau!”
Aku tersentak dan berbalik. Di sana tak jauh dariku ia memanggilku. Aku semakin gugup ketika melihatnya berjalan ke arahku. Sempat kulirik melalui sudut mataku dan bernapas lega ketika tahu hanya ada aku di sana.
“A-aku…???”,tanyaku sok jaim. Kadang di saat-saat seperti ini aku selalu bersikap sangat bodoh.
“Keisya kan??”,tanyanya tak menanggapi kegugupan dalam suaraku.
Aku mengangguk saja dan sedetik kemudian ia menyerahkan selembar kertas dengan kop surat sekolah di bagian atasnya. Belum juga aku sempat membukanya untuk membacanya lebih lanjut, dengan cepat ia sudah menjelaskan,”Minggu depan ada study banding dari Medan, kau ditunjuk jadi salah satu dutanya..”
“Hah-aku??!!!”,tanyaku heran.
Angga mengangguk,”Sebenarnya Sinta yang ditunjuk tapi karena ia sedang sibuk dengan persiapannya di PH, kau yang menggantikannya”
“Oh…”,ada sedikit nada kecewa dalam suaraku yang coba kututupi. “Tapi kenapa harus anak kelas XII?”,aku patut bangga dengan pertanyaanku ini, setidaknya aku tak melontarkan pertanyaan bodoh di depannya.
“Itu juga yang membuatku heran,tapi sudahlah toh hanya 2 hari. Tenang saja tak akan menganggu waktu belajar kita…”,ia tersenyum memastikan.
“Kita?!”,ada harapan melambung saat kutanyakan ini.
“Tentu saja…kau akan bersamaku 2 hari itu,mungkin akan membuatmu bosan tapi tenang saja aku bisa diandalkan”,ia tertawa kemudian pamit untuk pulang duluan, setelah sebelumnya berjanji akan menelponku jika ada yang perlu dibahas lagi.
Aku masih tertegun ditempat. Entah keajaiban apa yang tengah kudapat hari ini. Buru-buru aku berlari menuju redaksional dan menemukan Andira yang terlihat lebih cantik hari ini atau mataku kah yang tengah buta???
“An…”,bisikku dari balik pintu redaksional. Andira yang kelihatannya tengah sibuk mengetik sesuatu berbalik dan menyuruhku.
Selama berteman dengan Andira aku berulangkali memasuki ruang redaksional yang biasanya kuanggap terlalu sempit dan  penuh dengan kertas dan artikel. Tapi entah kenapa hari ini aku melihatnya sangat berbeda,kalau boleh jujur aku mulai menyukai ruang redaksional yang sempit itu.
Andira masih mengetik ketika aku masuk. Tampaknya ia sedang serius mengerjakan sesuatu karena ia tak berkutik saat aku duduk di sebelahnya,ia hanya menggeser tasnya dan membiarkan aku duduk di sana. Terpaksalah aku menunggunya sampai ia selesai mengerjakan yang kutahu setelah beberapa menit duduk di sana sebagai artikel tentang ujian nasional.
“Eh-Sya mau makan dulu nggak??”,tanya Andira sambil mengunci pintu redaksional. “Aku lapar nih…”,tambahnya.
“Emh-boleh,dimana?”,kesempatan bagiku untuk menjelaskan pada Andira tentang mood-ku hari ini.
Akhirnya tanpa banyak komentar aku menurut saja ketika Andira merekomendasikan makan di warung penyetan depan sekolah. Aku mengambil sebuah meja dekat jendela yang mengarah ke arah sekolah sementara Andira sibuk dengan sang penjual tentang pesanan kami.beberapa menit kemudian baru ia duduk di depanku dengan nampan besar berisi pesanan kami dan mulai melahap makanannya tanpa menungguku.
“Kau sepertinya lapar sekali An..”,komentarku yang dibalasnya dengan senyuman-penuh-makanan.
“Jadi udah ketemu Angga tadi?”,tiba-tiba Andira menanyakan pertanyaan yang sejak tadi ingin kuangkat sebagai topik pembiacaraan.
Perlu usaha keras bagiku untuk menelan makananku sebelum akhirnya aku menjawab pertanyaan Andira,”Yeah…”,aku mengangguk kemudian menyeruput es tehku.
“Lalu…?”
“Apanya?”
Andira menggeser piringnya yang telah kosong dan menarik minumannya lebih dekat,”Jadi ada perlu apa Si Mantan Ketua Osis itu denganmu?”
Nadanya menyebut Angga sebagai mantan ketua Osis sedikit membuatku sebal,tapi akhirnya kujawab juga pertanyaannya,”Aku ditunjuk sebagai duta sekolah di study banding minggu depan…”,kemudian kutambahkan dengan nada yang kubuat agar bisa diartikan sebagai sinyal ‘kecewa’,”…dengannya…”
“Wah,yang benar Sya?! Keren!!!Aku bisa wawancara kamu dong…study banding yang dari Medan itu kan?”,aku heran sendiri dengan respon Andira yang begitu ‘heboh’.
Aku mengangguk saja atas pertanyaan Andira itu kemudian melanjutkan melahap makananku, sementara Andira-gadis itu mulai sibuk dengan kerangka pertanyaan apa yang akan diajukannya padaku nanti. Dan aku akhirnya memutuskan untuk tak membawa Andira larut dalam apa-yang-sedang-terjadi-padaku.
Sampai di rumah buru-buru aku mengunci kamar, mencharge baterai handphoneku dan menyelesaikan semua tugas serta PR-ku untuk kemudian melihat time table tentang jadwalku hari ini. Ada tambahan les di rumah Andira malam ini dan semua list tugasku telah terselasaikan dengan baik,sehingga dengan senang hati kucoret dengan spidol merah.
“Sya…jam 7 ada leskan?”,mama yang sedang mengecek barang pesanan mengingatkanku.
“Iya…’jawabku dari dapur sambil membuka lemari makanan,berharap menemukan sedikit camilan yang bisa kubawa ke rumah Andira malam ini.
Akhirnya setelah menemukan sedikit camilan aku kembali ke kamar dan mengecek ulang apakah baterai handphone-ku telah benar-benar penuh. Aku tak ingin saat Angga menelpon nanti bateraiku low dan mengingat akan ada yang menelponku malam ini aku benar-benar bersemangat. Kulirik jam dinding di dekat rak bukuku dan mengeluh pelan ketika masih ada sekitar 3 jam lagi sebelum jam 7 malam. Akhirnya sambil menunggu,kubuka buku ‘Meraih Potensi Diri’ pemberian Andira 3 bulan lalu dan membacanya untuk yang ke-4 kalinya.