Tampilkan postingan dengan label GALAU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GALAU. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Juni 2012

Catatan Kasar

Antara semangat dan takut....

Sebuah catatan kasar yang kubuat saat belajar bareng materi PU (Praktek Umum)

2012 - 2013
Juli - Agustus = PU Getas (Gelombang I)
September - November = Skripsi (Pengumpulan data)--->bisa juga sambil kuliah(ngulang)
September awal = Pembukaan PU SILIN II
Desember/Januari = PU Silin + penulisan skripsi
Maret - April = KKN
Mei dst = Goes To Wisuda (pendadaran)
Juni = Goes To Malaysia
Agustus = Wisuda (Graduate)

Berjalan sesuai rencana....4 tahun pas! (tapi tanpa magang)


2012 - 2013
Agustus - September = PU Getas (Gelombang II)
Juli bisa digunakan untuk skripsi dan ngulang dulu
Oktober - November = penyelesaian data skripsi
selebihnya mirip dengan diatas


Semester 7 dimulai September - Februari
Libur semester 7 Februari - Maret
Semester 8 dimulai Maret - Agustus


Kalau fix Juni ikut main....kalau masuk gel.I PUnya bisa back to field bulan Agustus, kalau gel.II bisa masuk Juli.
Magang?????Kapan aku bisa magang???
Kalau mau magang, lepaskan impian ke Malaysia
(Bimbang)






Rabu, 23 Mei 2012

RindU

" akhir-akhir ini merindukan purna, merindukan latihan....tapi tiap aku merasakannya ada sisi lain hatiku yang memendamnya, ditahan dulu sebelum semuanya kelar....hanya bisa mengatakan maaf "







Jumat, 18 Mei 2012

My Life?

Ini dia...
Berputar-putar...berputar-putar...hingga akhirnya mencapai titik terjenuhnya untuk kemudian berhenti sejenak. Sekali lagi tentang galau berkualitas.
Skripsi, Marching, Aku.


Apa itu tadi? 3 hal yang mengisyaratkan apa itu tadi?
Entah setan apa yang menguasaiku saat ini rasanya aku ingin berteriak pada Tuhan minta petunjuk. Akan kemana arahku ini nantinya.

Hatiku....
" seolah menemukan belahan hati yang lama tak pernah kutemui...aku begitu mencintainya...Marching Band...ya,marching band...."
100% tekad bulatku padanya untuk menjadikan aku ini siapa nantinya, tapi......GAGAL!


Siapa aku ini di lapangan purna? Cempluk? Siapa Cempluk itu? Hanya tokoh fiktif yang sengaja kuciptakan di lingkungan baruku untuk menjadikanku sedikit "dianggap", tapi ujung-ujungnya aku malah jadi bahan bully-an dan joke untuk mereka.

Aku? Aku sendiri tak punya nama di sana. Aku tak menjadi apa-apa sampai sekarang....atau mungkin belum? Aku tak menjadi orang penting dalam artian orang yang punya nama di sana, orang yang akan diserahi tanggungjawab hingga memaksanya untuk mempertanggungjawabkan semuanya. Sementara aku dulu, sekarang, kini...hanyalah player. Orang yang akan disuguhi banyak pilihan yang ujung-ujungnya membuatmu galau sepanjang waktu.


Maaf-agar tak salah mengerti. Aku tak gila jabatan, hanya saja aku sekarang ini entah kenapa....merasa bimbang dengan posisi yang menawarkan banyak pilihan padaku.


Aku mahasiswi....InsyaAllah setahun lagi akan segera meloloskan diri ke pintu kerja dunia luar. Aku bekerja untuk apa? Untuk memperbaiki nasibku kan? Tak mau kan aku harus hidup seperti ini lagi hingga anak cucuku nanti.
Hanya saja,,,,,aku harus memperbaiki nasibku dengan cara bagaimana?

Banyak pertanyaan muncul yang tak kutahu jawabannya. Aku bimbang saja....
posisiku ini...mau dibawa kemana sekarang? Aku punya banyak pilihan dan setiap pilihan itu akan membawaku kepada jalan yang berbeda. Jalan yang kuambil adalah setiap tapak yang akan menentukan masa depanku kelak.














Jumat, 11 Mei 2012

I'm Afraid

Pengen tereak...pengen tereakkkkkkkkkkkkkkk!!!!!!!!!!Aaaaaarrrrrrrrrrrrrrgggggggggggggggggghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh


Tertekan banget aku hari ini. Sms war-wer-war-wer masuk, ngurus ini itu, minta ini itu.Akh!

Mana akunya lagi galau super pula. Bimbang pikiran antara mikir ini itu. Pengen sejenak berhenti dari waktu ini untuk berpikir lebih lama. Jadi intinya....aku jenuh.


Jenuh karena aku harus mikir yang nggak jelas pastinya. Jenuh karena aku masih belum bisa menjadi apa yang kumau. Jenuh karena aku lelah.


Semalam, seperti dugaanku sebelumnya, pembicaraan yang kuhadapi adalah tentang "Gimana keberlanjutanmu". Hufh....aku menghela napas. Ini yang kutahu aku sendiri tak tahu jawabannya. Aku masih bimbang sangat. Di saat itulah kemudian aku merasa dalam waktu dekat mau nggak mau aku harus sudah mendapatkan kepastiannya. Pertemuan dengan dosen itu...harus segera dilakukan!

Kemudian setelah itu...entah karena kepo atau bagaimana aku menemukan foto ini :
Yups...lihat kawan. Itu 3 foto teman seangkatanku. Yang paling pojok kanan itu. Itu sahabatku. Inilah kemudian yang membuatku galau lagi. Melihat dia....melihat sahabatku, melihat gadis itu...aku sampai sekarang tak akan mengampuni diriku sendiri. Ada satu kesalahan fatal yang sampai sekarang masih membuatku merasa tak enak padanya.
Adalah kita berdua. Dari sejak semester awal (makrab tepatnya) hingga pertengahan kita masuk, kita sudah dicap sebagai Si Kembar. Bagaimana tidak??? Kemana-mana kita selalu bersama. Ngapa-ngapain kita selalu bareng. Segala hal....segala kondisi...kita selalu bersama. Berbagi suka-berbagi duka. Hingga akhirnya......aku memutuskan untuk kemudian memilih jalan yang sedikit berbeda dengan prinsipnya. Aku masuk marching.

Boleh dikatakan dia saat itu bukannya tak setuju dengan aku ikut UKM tersebut, tapi namanya juga sahabat, segalanya dia sampaikan termasuk yang terburuk jika aku ikut UKM itu. Tapi dasarnya aku bandel, proses yang banyak orang mengatakannya dengan 'berat' tak kupedulikan. Dia-sahabatku itu mengerti dan hanya mengingatkanku agar kegiatanku itu tak mengganggu kuliahku. Khas seorang sahabat sekalikan??


Maka.....dimulailah kami dengan jalan kami sendiri. Mula-mulanya tak banyak yang berbeda. Toh saat itu aku juga masih latsar. Kita masih sering bersama dikampus dan sorenya aku latsar. Hingga suatu saat....mungkin Tuhan telah memperingatkan dengan beberapa kejadian sebelum itu.


Sahabatku...membeli sepeda baru. Rasanya senang sekali dia punya barang itu. Masih gress dan bagus pula. Dia beri nama "Lorenzo". Kita berdua...kadang memakainya secara bergantian dan berjalan-jalan dengannya. Tapi entah kenapa naas sekali ketika engkau dipercaya seseorang untuk menjaga barangnya tapi  engkau lalai dengan itu.


Sore itu...sahabatku ada English Club. Dia menyuruhku untuk membawa sepedanya sekalian aku berangkat latsar. Beruntunglah aku, tak perlu capek-capek jalan kaki, kuturuti saja maunya. Kuparkir sepedanya di tempat parkir purna dan aku segera menyusul latsar yang tempatnya di depan.

Magrib tepatnya, kami selesai latsar. Ada seseorang yang bertanya padaku apakah aku mau jalan kaki pulang dengannya. Kujawab saja dengan, " Aku bawa sepeda temenku lho ". Dia tertawa. Tak percaya aku bawa sepeda. Akhirnya aku ingin menunjukkan buktinya dengan segera datang ke parkiran dan menuju tempat sepeda tadi kuparkir.


Detik pertama aku sampai di tempat parkir.
Detik kedua aku melihat ke sekeliling tempat parkir.
Detik ketiga............................aku tak menemukan sepeda itu.



Ya kawan.....itulah yang kubilang kelalaian. Aku tak menjaga Lorenzo hingga secara sempurna dia raib entah dicuri siapa.

Petang itu aku menangis air mata.
DAN HINGGA SEKARANG AKU MASIH MENANGIS DALAM HATI.


Sempurnalah sudah. Persahabatan yang kujalin bersamanya kian lama kian berubah. Sejak 2 tahun lalu, sejak saat itu...aku telah berjanji untuk menggantinya. Tapi...uang 1.700.000 lebih aku bahkan tak punya. Tabunganku????Aku tak pernah benar-benar punya tabungan kawan. Om-ku tak pernah lagi mengirimiku uang bulanan seperti saat dulu 3 semester awal aku di sini. Ayahku? Ibuku? Untuk makan saja mereka kesusahan, untuk memenuhi semua kebutuhan kuliahku saja mereka mesti gali lubang tutup lubang, untuk keperluan adik-adikku saja mereka harus rela kehilangan muka bekerja. Untuk itulah kenapa aku selalu mengandalkan BOP (Beasiswa Operasional Pendidikan) yang artinya kalau engkau dapat, engkau akan bebas membayar sks yang jutaan itu. Hingga akhirnya mentok di semester 5 kawan karena kebijakan fakultas yang mewajibkan setiap pengajuan beasiswa harus melampirkan proposal PKM (Pekan Kreatifitas Mahasiswa) yang aku sendiri tak pernah memilikinya. (Untuk bagian PKM ini mungkin akan kuceritakan di lain judul)

Untuk itulah kawan....aku di sini, aku tak pernah mendapat jatah bulanan. Kalau boleh kubilang....aku hanya akan diberi uang 100.000 atau bahkan mungkin 50.000 saja untuk mensuplai kebutuhanku hingga akhirnya aku akan minta lagi dan lagi dan lagi. Terjawab sudah kan kenapa aku enggan diajak nongkrong di tempat makan yang relatif mahal atau untuk sekedar nonton film terbaru di bioskop, atau mungkin kenapa aku tak pernah berusaha balas mentraktir kawan-kawanku yang saat ultah mereka mentraktirku.

Dan itulah kenapa kemudian kadang aku galau dengan diriku sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan sendiri saja aku masih tak mampu. Aku masih menjadi orang yang memikirkan "makan apa besok" bukan orang yang memikirkan "karya apalagi yang akan kuhasilkan besok"


Kembali lagi ke galauku tadi. Hingga sekarang.....hutang itu masih ada. Hingga sekarang aku masih memikirkan bagaimana aku bisa melunasinya. Hingga sekarang aku masih mengeluh tanpa usaha....

Dan keadaanku dengan sahabatku itu. Entahlah....aku masih tak enak dengannya. Aku masih membatasi pertemuanku dengannya. Aku masih takut aku akan mengatakan "aku belum bisa melunasinya sekarang...". Hingga kemudian aku menemukan foto itu. Sudah menjadi hebat dia sekarang.
Dia.........bolehkah kalau kubilang aku iri dengannya, tapi aku juga bangga padanya. Aku iri karena prestasi yang bisa kubanggakan sekarang hanyalah sekedar ini :
Piala siapakah itu?Bukan pialaku. Itu piala unit. Siapakah yang mendapatkan nama besar itu? Bukan aku....tapi unit. Intinya....kalah jauh aku dengannya. Kalau boleh kubilang....nilaiku nol (NOL BESAR). Inikah yang kemudian kubilang dulu bisa menjadikanku "siapa-aku". Inikah yang bisa kuraih sebagai ganjaran kelalaianku itu? Inikah pengganti yang sepadan aku dan sahabatku?



Aku sekarang.....seolah sedang di arena pertandingan. Semua mata menatap padaku. Semua orang tahu apa yang akan kulakukan. Pandangan mereka......pandangan harapan. Tapi badai berkecamuk dalam batinku. Aku takut menghadapi apa yang di depan. Aku tak pantas sebenarnya berada di arena pertandingan ini. Harusnya aku menjadi penonton saja.


Aku kadang berpikir. Sebegitu mudahkah mereka-mereka yang di sana berleha-leha, minta ini itu semuanya ada. Aku minta IPK 3 saja sudah kembang kempis aku. Aku minta satu judul skripsi saja sampai sekarang aku belum tahu. Aku minta untuk membayar ini itu, aku harus memikirkannya 1000 kali dulu. Aku minta menjadi diriku sendiri saja....aku masih saja takut.


Intinya......aku takut dengan semua kehidupan ini. Aku takut aku menhancurkan harapan orang tuaku untuk tepat lulus 4 tahun, untuk segera mencari kerja, untik segera menggantikan peran Bapakku membiayai adik-adikku. Aku takut aku tak mendapatkan apa-apa di hal yang kusukai sekarang. Aku bahkan takut akan diriku sendiri.


Sahabat...
kalau kau mendengarku sekarang, aku ingin mengatakan maaf mungkin untuk yang keseribu kalinya aku berucap
bukan karena aku tak mau membayar hutangku padamu
bukan.....
hanya saja kawan....
aku tak punya.....aku tak punya yang bisa untuk mengganti semua itu
orang tuaku pun, aku yakin mereka juga pasti sedang memikirkan bagaimana caranya
aku ingin engkau bersabar,,,,
maaf untuk membuatmu bersabar lagi.....
hanya saja.....
hanya itu yang bisa kulakukan sekarang
maaf....sekali lagi maaf....


Satu pertanyaan yang kemudian muncul di kepalaku, " Kenapa aku tak mencoba bekerja part time?"
Aku diam saja. Tak ada jawaban untuk itu.





-Terlihat jelaskah bahwa aku pribadi yang tak mau berusaha? Hanya mengeluh dan mengeluh saja? Beginikah aku terbentuk?-

-------------------------------------------------------------------------------------------------------


Setiap langkah menentukan masa depan seperti apa yang akan engkau pilih (Anonim)


*Aku takut*





Minggu, 06 Mei 2012

The Quote

"Tangis seorang wanita bernilai seribu kata....Pahami hatinya bukan kata-katanya "
Sebuah status di media sosial yang menggugah hati.


Ada kalanya kita berjalan bukan di jalan yang benar. Ada kalanya juga kita berjalan di jalan yang benar tapi kita tak benar-benar paham bahwa itu benar hingga akhirnya terjebak dalam pemikiran sendiri untuk kemudian memilih jalan lain yang tak benar. Namun ada kalanya kita berjalan di jalan yang salah tapi kita percaya bahwa jalan itu benar.


Kalau saja aku ini bukan seorang gadis yang terjebak dalam sulitnya untuk mengungkapkan rasa tanpa peduli apakah itu akan membuatnya sakit atau tidak, mungkin aku tak akan menulis ini sekarang, tak akan berusaha mencari pelampiasan hanya untuk sekedar menumpahkan isi hati agar terasa lapang kembali.


Ya..tangis itu, air mata itu...bernilai seribu kata. Apa yang tak bisa diungkapkan telah ia tumpahkan segalanya dalam seribu tetes air mata yang keluar darinya. Setiap apa yang hendak dia katakan sebelumnya tertumpahkan di sana. Hanya saja....


Ingin kuberkata, "Janganlah kita begini sekarang "
Kemudian kuharap dia bertanya, " Kenapa?"
" Aku ingin menjadikanmu spesial di saat yang tepat nantinya. Aku takut kamu bosan denganku sekarang "
" Tak mungkin aku bosan denganmu..."
Aku menggeleng, " Tak mungkin...hatimu lebih lembut dariku, kau akan berpaling tanpa kau sadari telah menyakiti hatiku "
Kemudian dia akan memandangku dan bertanya, "Kau tak percaya padaku?"
" Bukan aku tak percaya, bukan aku tak cinta, bukan pula aku tak sayang padamu....hanya saja ini semua bukan seperti aku. Aku menginginkan sebuah kebersamaan dari hati yang terdalam, bukan hanya sekedar cinta semu sebuah hubungan "
" Aku tak mengerti ucapanmu "
" Hatiku....aku ingin kau menyentuh hatiku bukan hanya dari fisikku",kemudian aku akan tertunduk lesu, "...aku menyayangimu, sudah terlambat untuk pergi darimu sekarang.....tapi aku hanya ingin engkau bersabar untukku "
" Dalam hal apa?"
" Segalanya..."
Hening sesaat. Kemudian dia bertanya kembali, "Kau ingin pergi dariku sekarang?"
Aku menggeleng, "Tidak...aku ingin bersamamu, hanya saja aku ingin sedikit melambat.....proses ini, aku ingin menikmatinya sejenak...."
Dia memandangku dan aku-bodoh sekali aku tak mampu membaca pandangannya.

Tangis itu bernilai seribu kata. Pahami hatinya bukan kata-katanya.


Kemudian dia berkata," Malaikat kecilku....apa yang telah kulakukan menyakitimu?"
Aku tak menjawab. Sekali lagi tangis itu bernilai seribu kata...
'Sesakit-sakitnya hatiku karenamu, akan selalu ada berjuta-juta maaf untukmu'
Mengertilah bahwa aku akan selalu membutuhkanmu untuk saling menjaga sakit itu tetap ada agar kita selalu dekat

Senin, 30 April 2012

TEARS

Rasanya akan lebih berharga kalau engkau mengagumiku karena aku belum 'tersentuh' siapapun. Rasanya aku akan memiliki nilai lebih dimatamu kalau aku masih menjadi seorang gadis yang belum pernah tahu apa itu dunia luarmu. Rasanya akan lebih istimewa kalau kau selalu menuntunku menuju ke arah yag lebih baik dari sebelumnya. Rasanya akan lebih bahagia kalau kau mau membaca pikiranku.


Ia menutup kedua matanya dengan tangan dan berbalik membelakangiku. Ada sesak yang membuatku bertanya-tanya, ada apakah gerangan dirinya? Ia menelungkupkan badannya dan bisa kudengar samar-samar isak tangisnya. Pertama kalinya ia meneteskan air mata di depanku. Kukira dia kuat, kukira dia hebat, kukira dia....ahh-aku tak mau menyebutkan secara berlebihan.

Ada yang salah di sana hingga dia yang kupikir sebelumnya berbalik 180 derajat. Tangisnya membuatku perih dan tak kuasa ku mendekapnya. Apa salahnya atau apa salahku hingga air mata itu jatuh???


Waktu, haruskah kusalahkan waktu karena tak mampu membuat kelapangan bagi kita berdua? Tak mungkin aku bisa mengatur waktu seenak hati, memajukannya, memundurkannya, mempercepat bahkan melambatkannya. Siapa aku ini/ Hanya seonggok daging yang bisa bicara dan berjalan kaki.


Aku menangis dalam diam namun seakan tak mau menampakkan kesedihan mendalam di depannya, kututupi dengan mencoba berkata tegar padanya. Waktu tak akan salah, kita saja yang tidak bisa melakukannya dengan benar.


Maka ia pun berhenti menangis. Dalam sengaunya ia mengatakan bahwa ini semua salahnya.

Deg!


Apa itu??Kenapa dia justru menyalahkan dirinya sendiri. Aku tak mau dengar. Tak ada yang benar-benar salah di sini. Kujawab, kita saja yang tidak bisa melakukannya dengan benar.


Dalam beberapa waktu kita terdiam. Telah kering air matanya, namun banjir di hatiku sekarang. Aku tertunduk lesu dan bicara dalam diam, "Tuhan....benarkah ini semua?Kenapa...kenapa harus begini adanya??Tak sabarkah kami karena keegoisan ini?"


Rintik hujan menemani hariku dengannya. Tangis itu.....aku tak mau melihat lagi. Sekali ini kucoba untuk bersabar, hanya dengan satu alasan...aku menyayanginya.

Kamis, 26 April 2012

MAJU ATAU MUNDUR

Dan jam segini si Galau Berkualitas udah muncul.....
Entah kenapa hari ini moodku agak nggak jelas untuk diungkapkan. Seneng enggak, sedih juga enggak. Setelah 3 hari kemarin gagal kuliah gara-gara hari pertama masih kacau karena sakit, dan hari kedua berhasil kuliah tapi langsung pulang dan istirahat plus kemarin hari ketiga karena alasan dadakan gantiin anak nampil padus. Okelah...di bagian lain nanti akan kuceritakan soal itu, sekarang aku mau cerita dulu tentang Galau Berkualitasku.


Entah kenapa sejak hari itu diumumkan "Juni 2013 InsyaAllah MB UGM akan berangkat ke Malaysia"
Deg!
Aku terdiam. Detik pertama aku mencerna kata-kata dari sang ketua unit. Detik kedua akupun mulai berteriak kegirangan bersama anak-anak lain. Dan detik ketiga........2013 Juni.....waktuku di UGM hampir habis.


Setelah hari itu hingga saat ini aku mengetikkan curahan hati ini, aku masih memikirkannya. Mau lanjut atau nggak???

Satu hal yang pasti selambat-lambatnya aku diwisuda adalah bulan Agustus 2013 yang otomatis akan membawaku untuk segera pendadaran bulan-bulan sebelum itu. Tapi sekarang yang aku pikirkan adalah aku bahkan belum punya peta kehidupan yang jelas untuk tahun itu atau setidaknya hingga kelulusanku. Aku tak punya target realistis kapan sebenarnya aku harus mulai skripsi, KKN...arGgGhhhHhH!!!!Membingungkan sekali.
Dan yang lebih parah adalah aku hingga saat ini masih belum ada materi penelitian apa untuk skripsiku nati padahal banyak dari kawan-kawanku yang sudah mulai ambil data. Padahal kalau mau sedikit saja berusaha, dari dosenpun sudah ada yang menawari, hanya saja kenapa aku masih diam saja???Karena aku tak tahu aku harus berbuat apa atau apa yang sebenarnya ingin aku teliti atau penelitian seperti apakah yang harusnya aku lakukan???


Lalu kembali lagi ke masalah awal. Suatu kekonyolan pikiran paling cekak yang terlintas secara singkat setelah pemberitahuan itu....maksimal Juni 2013 aku harus sudah didadar...jadi masih bisa ikut ke Malaysia...dan Agustus 2013 saya wisuda! Seperti halnya Mami (CG) waktu GPMB 2011, Beliau juga seperti itu.


Hufh-tapi....bisakah aku bertahan 1,5 tahun lagi di unit ini??
Sekarang mungkin mudah untuk dibayangkan...tapi prosesnya?Jelas akan lebih menyakitkan..


Dan sampai saat ini aku masih ragu dan bimbang...
Dapatkan aku memperoleh ijin untuk maju/mundur???

Jumat, 20 April 2012

GALAU

Entah kenapa hanya ingin memberikan tempat untuk melapangkan dada ini dan mencoba untuk mencari solusi tentang apa yang tengah terjadi. Pagi ini dengan segenap perasaan campur aduk yang memang tengah bersemi kusebut saja dengan galau, aku membuka laptop dan mulai mengetik di sini.
GALAU.........
Ya sepagi ini entah kenapa tapi aku galau. Galau yang tak jelas. Galau yang tak berkualitas. Galau yang membuatku ingin berteriak "Aku ingin keluar dan lari saja dari semua ini T_T"
Alasan galau tak ada. Alasan untuk berteriakpun tak ada. Tapi apa yang ada di pikiranku sekarang adalah aku mulai merasakan jenuh dengan apa yang bisa kusebut dengan hubungan ini.

Bagaimana tidak???Waktu yang harusnya aku diakui semua orang, waktu yang harusnya aku bisa didoakan oleh mereka-mereka, terampas hanya karena satu hal....AKU TAK PANTAS UNTUKNYA.

Okelah, kadang aku ingin berkata "Apa urusan loe ke gue??!Gue emang nggak cantik itu jelas banget, gue juga nggak pantes buatnya, gue nggak punya apa-apa buat dikasih ke dia "

Tapi aku tak mampu. Menyuarakan pendapat yang seperti itu hanya akan menambah masalah dan memperburuk keadaan. Jadi yang bisa kulakukan hingga sekarang adalah diam, menunggu dan percaya saja dengan apa yang 'dia' katakan padaku. Aku tak berani melawan. Aku tak berani melampaui batasan.

Okelah itu satu dari segelintir yang sedang terjadi padaku saat ini. Aku tak menyalahkan satu pihak. Aku hanya ingin mengutarakan apa yang ada di hatiku sekarang ini. Tak sepebuhnya juga mereka salah. Karena cinta itu buta, maka orang-orang seperti mereka patut diacungi jempol karena itu tandanya mereka peduli, mereka sayang dan itu salahsatu cara mereka mengingatkan.


Dan dari dia. Kenapa aku kadang berpikiran, dia tak tegas dengan apa yang dia inginkan, apa yang dia lakukan dan apa yang dia pernah katakan??? Abu-abu aku membayangkan. Kupikir dia sudah menyatakannya bahwa oke saya ingin Anda menjadi pendamping saya. Mau disebut pacar bukan, disebut temen biasa juga bukan, disebut TTM apalah itu aku bahkan tak mengerti definisinya. Maka kusebut saja dia kekasih. Walaupun mungkin dia tak pernah memintaku, tapi apa yang sudah kita jalani bersama ini? Suatu saat ketika semuanya berubah, ketika semuanya menghambat perjalanan kita untuk bersama aku mungkin hanya akan tertunduk malu pada diriku sendiri karena bodoh telah sangat percaya dengan semua cerita ini.


Sayang...
Mungkin aku hanya butuh kepastian. Mau kemana sebenarnya hubungan ini. Aku butuh komitmen karena dengan itu aku akan tahu kamu serius dengan apa yang telah kau katakan semuanya. Tapi sekali lagi....aku tak berani mengungkapkan ini semua. Kupendam saja.

Dan hidupku....
Tuhan..
Kejenuhan macam apa yang sedang kurasakan sekarang? Mau UTS tapi belajar pun aku malah tak mau. Sudah hampir lulus saya, tapi satu judul skripsi saja saya tak ada. Bahkan tak ada gambaran setahun dua tahun ke depan saya akan jadi apa. MANJA!


Chasing 21 tahun....
Tapi software 5 tahun...


Untuk apa semua ini? Untuk apakah aku harus seperti ini?
Tangis yang hanya bisa kupendam dalam hati.

Tuhan...
Takaburkah aku? Dulu aku pernah meminta siapapun tolong bantu aku mengubah seperti apa adanya aku ini. Dan sekarang ketika malaikat itu datang, sekuat tenaga ia membantuku untuk terbang.....aku jenuh. Takaburkah aku???




Maafkan aku....


Aku terlanjur sayang padamu dan aku tak ingin kamu pergi untuk membiarkanku terbang sendiri. Aku ingin terbang bersamamu.....hingga nanti :)

Rabu, 18 April 2012

Hukum Ombakkah Ini?

Dan ketika mimpi itu menjadi nyata, realitanya tak seindah biasanya. Gadis itu menatap lautan di depannya. Bila dianalogikan dalam sebuah cerita, babak apakah yang sebenarnya ia perankan sekarang? Settingan seperti apakah ia berada sekarang? Plot apakah yang akan dia lalui sekarang?

Cinta....
Sekali lagi tentang cinta dan kegalauan diantaranya. Bukan apa-apa kalau memang ada hal di luar kehendaknya yang ia ingin coba. Tak ada maksud lebih kecuali murni ia membutuhkan sandaran untukknya berbagi. Dan Tuhan, entah apa maksud Dia mengirimkan sebuah bungkusan paling menarik yang pernah ia dapatkan. Sebuah kado, hadiah dan suprise yang sangat luar biasa ketika bungkusan itu tiba. Sebuah senyuman paling mengesankan dan keteduhan mata serta hatinya membuatnya luluh hingga tak mampu berkata. Maka dimulailah perjalanan itu dengannya.

Sekali lagi -dan ketika mimpi itu menjadi nyata, realitanya tak seindah biasa- Apa mau dikata? Belum pantas ia mendapatkan bungkusan menarik itu. Belum saatnya ia memulai perjalanan itu bersamanya. Hingga akhirnya tantangan pertama membuatnya terjerambab dalam tangis sendu kekecewaan akan hadirnya sang pengganggu yang justru sebenarnya adalah para malaikat penyelamat.

Lalu mau apakah ia sekarang? Bergerak pun rasanya sudah tak mampu. Perasaan memiliki itu sudah semakin kentara dan ketika akhirnya kata 'hilang' seolah-olah hilang tak berbekas adanya.

Gadis itu menatap kembali lautan didepannya. Ombak di tengah sana bergulung-gulung berusaha mendekatinya. Tapi belum tentu ombak sebesar itu mampu menghantamnya, paling hanya segelintir kecil air yang akan membasahi kaki dan tumitnya.

Dan ombak itu....perasaan cinta yang menggulung-gulung. Besar dan penuh gelora. Seolah-olah hendak menghantam apapun didepannya tanpa kenal ampun. Semakin ia mendekat, kenapa semakin ia jatuh? Kenapa semakin ia mendekat justru semakin melemah geloranya hingga akhirnya yang akan terlihat hanyalah ujung dari gulungan ombak itu membasahi tumit dan kaki. Menyeret kembali pasir dan segala sesuatu yang dapat disentuh olehnya kembali ke lautan luas di sana. Hukum ombak itu sedang berlakukah dalam kisah ini?


Gadis itu menatap air yang mengalir melewati kakinya. Perih.

Minggu, 15 April 2012

SENYUM ITU

Kesedihan...
Kekecewaan...
Kemanakah harus kuungkapkan? Gadis kecil itu menatap nanar ke dalam lautan di depannya. Ia butuh keajaiban untuk menghapus segala hal yang membuatnya kecewa hari itu. Tapi....
" Harusnya kamu bisa melakukannya sendiri "
Gadis itu diam. ' Sendiri ' kata yang menyakitkan. Haruskah ia memang melakukannya sendiri. Lalu dimana orang-orang yang mau membantunya. Sudah tak adakah?
" Bukan masalah besar kalau sejak awal kau sudah merencanakannya dengan baik "
Sekali ini gadis itu diam saja. Kesalahan. Ya...dia sadar ini adalah kesalahan yang mungkin dapat dihindari kalau ia merencanakannya dengan baik. Tapi....kesalahan, haruskah tetap bertahan menjadi kesalahan? Bukankah kesalahan sejatinya adalah ilmu terbaik untuk mendapatkan pelajaran berharga?
Deburan ombak membuatnya sadar. Ia memang tak lagi melakukan sesuatu yang benar.
Perlahan-lahan, ia mulai terisak.

' Mau sampai kapan ini berakhir? Sebuah masalah tanpa pemecahan. Sebuah konflik yang harus dihindarkan ', kata hatinya berkecamuk.

Tangisnya runtuh bersama deburan ombak yang menghempaskan percikan air ke wajahnya. Terpaan angin membuat wajahnya kuyu.

Lalu senyum itu muncul kembali dalam bayangannya. Menariknya menjauh dari bayangan tentang segala kekecewaan, segala kesedihannya hari itu. Senyum itu hangat dan menenangkan. Gadis itu terhenyak sesaat. Ada setitik harapan di sana yang membuat air matanya surut. Sebuah keikhlasan untuk membantunya kembali berdiri ketika sebuah lubang membuatnya jatuh. Ada dia...ada senyum itu....ada tawa itu....yang membuatnya yakin, ia mampu berdiri lagi.

Kamis, 09 Februari 2012

Galau IPK

Siang-siang begini,duduk di depan laptop sambil mengetik sesuka hati, ditemani hape plus catatan kehadiran anak-anak latsar dan padus. Kegalauan tiba-tiba menyerangku. Bukan maunya sok-sok-an atau bagaimana, tapi mengingat keadaan IPK ku yang masih 6 sks belum keluar galau juga, sementara nilai kembang kempis.

Jadi galau IPK....
Lalu mulai melirik masalalu. Kenapa begitu parah keadaanku sementara yang lain bisa juga mendapatkan IPK cumlaude.

Belajar, tentu saja....salahku di situ. Kini 3 matkul harus diremidi dan aku masih belum mau juga menyentuh diktat. Kalau begini-begini terus gimana aku bisa maju. Latihan marching aja rajinnya minta ampun, giliran disuruh nyentuh makalah,jurnal,buku malasnya nggak ketulungan.

Motivasi apa sebenarnya yang kurang dariku?
aku ingin berubah, betul. Mungkin hanya akan semu saja bagiku untuk lulus dengan IPK cumlaude, tapi setidaknya IP cumlaude di tangan itu sudah memberiku kepuasan.

Benar-benar galau.

MAAFKAN AKU AYAH IBU....T_T